Al Fatih vs Ultraman Orb
“Aqil......, televisinya dimatiin dulu ya, Naaak”
“Bentar lagi, Bunda. Ultraman Orb lagi bertarung sama Maga Basser. Ntar Adek gak bisa cerita ke Bima dan Umar kelanjutan yang kemaren” kata Aqil tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
“Bima teman kamu itu bukannya juga suka nonton juga?? Kenapa mesti adek yang ceritaiin?”
“Bima udah gak boleh nonton film yang ada berantem-berantemnya, Bun. Dilarang abi dan uminya.” Katanya sambil mencomot mede panggang yang kubeli kemarin.
“Kalo Umar???”
“Umar sekarang ikut kelas tahfiz, Bun.”
“Emangnya Umar gak ngaji lagi di rumahnya Pak Abik?” selidikku sambil ikutan makan mede panggang yang ternyata udah tinggal sedikit.
“Tetap ngaji koq, Bunda. Jadwal nya Umar dipindahin ke malam. Kemaren adek dengar abi Umar bicara sama Pak Abik.”
“Oooo gitu??? Adek kenapa gak ikut kelas tahfiz juga kaya Umar??”
“Adek gak mau ikut-ikutan, Bunda. Kan Bunda yang ngomong, kalo kita tuh gak boleh ikut-ikutan teman, gak baik....”
“Kalo kegiatannya positif gak apa, Nak?”
“Positif tu artinya apa, Bun?” tanya Aqil sambil menggaruk kepalanya yang kelihatanya tidak gatal.
“Positif itu sama dengan baik. Jadi, adek mau gak ikut kelas tahfiz???”
“Ntar aja deh, Bunda. Adek ikut bareng ayah aja. Kalo ayah ikut tahfiz, adek ikut juga. Kalo ayah gak mau, adek juga gak mau.” Katanya sambil melirik ayah yang lagi asyik membaca Ensiklopedi Akhir Zaman.
“Dek, tadi bunda beli komik Al Fatih vs Vlad Dracula edisi 2 sama 3. Adek baca, ya! ceritanya makin seru. Rugi kalo adek gak baca.”
“Emang Bunda udah baca?” selidik jagoanku sambil mengangkat kedua alisnya. Penasaran.
“Udah dong, makanya Bunda tau kalo ceritanya seru. Bunda penasaran bisa gak Al Fatih mengecoh dan mengejar Dracula yang licik. Di edisi #1, Dracula berhasil memukul mundur Al Fatih sama pasukannya. Bunda gak suka jagoan bunda kalah. Makanya bunda baca edisi #2 sama #3 sampai tamat. Trus adek tau gak, ternyata...”
“Eitss....! Stop! Stop! Bunda jangan lanjutin ceritanya. Biar adek baca sendiri. Ntar kalo adek tau ceritanya dari Bunda, gak seru lagi dong bacanya.”
“PR adek udah selesai belom??”
“Tenang aja Bunda. PR-nya dikumpul dua hari lagi koq.”
***
Sabtu, 20 Februari 2021
PLANNING SI BUYUNG
Sepulang mengaji dari musholla yang tak jauh dari rumah, Buyung kelihatan sedih. Kerut di keningnya seolah ingin menyampaikan sesuatu. Tebakanku pasti ingin membeli mainan baru, atau pensil baru, sepatu baru, atau apalah asal membeli.
“Bapak mana, buk?” Tanyanya sambil menggelongsorkan tubuh gempalnya di tikar plastik bergambar upin-ipin.
“Ada di dalam, lagi buat PR,” kataku. Memang bapaknya anak-anak suka mencatat beberapa kegiatan yang telah dan akan dilakukan setiap hari.
“Oooo.” katanya sambil berdiri lalu menarik sebuah kursi plastik warna hijau, meletakkan di depan lemari piring, lalu menaikinya. Tangannya meraba-raba bagian atas lemari, seperti mencari--cari sesuatu.
“Buyung cari apa, Nak?
“Cari korek api, Bu.”
“Untuk apa korek api malam-malam begini?”
“Lilin lebaran tahun lalu kan masih ada, buyung mau main lilin dulu”
“Besok saja nak, ini kan sudah malam, lagi pula PR untuk besok sudah selesai atau belum?”
“Sudah, Buk, mana korek api yang warna merah yang biasanya ada di sini buk, ooo ini ada, udah ketemu.” Katanya lalu turun, mengambil lilin dan mencoba menyalakannya. Sekali dua kali dipetiknya korek api warna merah tersebut tapi belum bisa juga. Diambilnya kembali kursi plastik warna hijau, lalu menaikinya, tangan gempalnya kembali meraba-raba di bagian atas lemari. Kali ini kakinya juga turut berjinjit, tak lama setelah itu dia duduk. Lama kutunggu, lilin yang berserakan di dekat pintu masuk tak jua disentuhnya. Kumenoleh ke belakang, ternyata sii Buyung asyik memandangi sebuah kotak kecil berwarna putih.
Deg, dadaku berdebar agak kencang dari biasanya. Buyung menemukan rokok bapaknya yang sengaja diletakkan di tempat yang agak tinggi, biar gak ketahuan anak-anak kalau masih merokok. Maklum, anak kami yang sulung sangat marah jika tahu bapaknya masih merokok.
“Bu, ini rokok bapak, ya? tanya si buyung penuh selidik.
“Ooo, itu rokok teman kantor bapak yang tadi berkunjung, ketinggalan, jadi disimpan dulu, besok waktu bapak kerja, baru dikasih,” kataku sembari membersihkan sampah yang ada di kolong meja. Berusaha menyembunyikan wajah, biar ggak ketahuan kalau aku berbohong.
“Jadi temannya bapak masih merokok ya, Buk, apa bapak juga masih merokok, Bu?
“Bapak sekarang ndak merokok lagi nak, gak boleh, nanti sakit,” timpal si bapak dari ruang tengah.
Ya iyalah sekarang gak merokok, takut dimarahi anak-anak, tapi kalau lagi di luar rumah kan masih merokok, ujarku dalam hati.
“Katanya merokok gak boleh, kenapa teman bapak masih merokok?” si Buyung berusaha mencari pembenaran.
“Teman bapak itu sudah besar, sudah dewasa, dan sudah berkerja, jadi sudah punya uang sendiri,” kata Bapaknya panjang lebar.
“Bapak kan sudah besar, sudah dewasa, dan sudah berkerja, jadi sudah punya uang sendiri, kenapa tidak merokok?”
“Bapak dilarang merokok oleh atasan bapak, takut nanti kantor terbakar.”
“Bukannya rokok ini kepunyaan teman kantor Bapak?”
“Iya, tapi teman bapak itu lebih sering jadi sopir kepala kantor bapak.”
“Ooo, berarti Buyung besok kalau sudah besar, sudah dewasa, buyung jadi sopir saja ya, Pak, jadi boleh merokok, kan sudah punya penghasilan sendiri,” katanya sambil ngeloyor masuk ke kamar. Tidur.
Si bapak, melongo, kehabisan kata-kata. Dasar si Buyung.
***
Disleksia
Bibir yang
tak pernah basah oleh tasbih pada-Nya
Gigi yang
tak pernah bergemelatuk mendentingkan rindu-Nya
Lidah yang
tak pernah menari menggetarkan asma-Nya
Kerongkongan
yang tak pernah dialiri nafas cinta-Nya
Semua kini
melawan
Berontak
Menyesak
dari dada melewati kerongkongan terus ke
ubun-ubun
Lalu
kembali pada lidah tak bertulang
Pada bibir
yang menggigil
Senyap,
tiada kata tanda cinta pada-Nya yang terucap
Halaban, 14
Februari 2020
TERLALU PD
Selesai mengawas UAMBN (waktu itu masih ujian tulis) dan menyelesaikan administrasi dengan panitia, kami para pengawas mohon izin untuk pulang ke rumah masing-masing. Kami pamit setelah bersalaman, kemudian cipika-cipiki dengan guru-guru perempuan sesama pengawas dan panitia ujian.
Sambil bersiap-siap, salah seorang rekan sesama mengawas mengatakan kalau ada razia di daerah Ngalau Indah. Teman-teman yang belum ada SIM atau yang SIM-nya mati, yang pajak motornya mati, spion motor tidak lengkap, atau yang tidak pakai helm, memilih jalan alternatif ke belakang madrasah.
Jadilah cuma aku saja yang lewat jalan raya. Toh kalaupun nanti kena razia, surat-surat lengkap: SIM & STNK ada, pajak hidup, helm ada, teman yang bonceng helm-nya juga ada. Spion lengkap, pokoknya aman, dah.
Sesampainya di Ngalau Indah, ternyata razia masih berlangsung. Jadilah motorku disuruh menepi oleh pak polisi. Aku menepi.
"Selamat siang, Bu.”
“Selamat siang, pak,” Jawabku ramah sambil tersenyum.
“Maaf, perjalanan ibu terganggu, mohon SIM dan STNK-nya dikeluarkan,” kata pak polisi ramah sambil mengamati plat nomor sepeda motorku.
Aku merogoh dompet, mengambil SIM dan STNK, lalu menyerahkan kepada pak polisi. Ketika pak polisi yang cukup ganteng itu memeriksa SIM & STNK, kami asyik bercerita, kadang diselingi cekikikan kecil.
“Pajak motor ibu, mati ya,” kata pak polisi, sembari mengeluarkan kertas tilang warna merah.
“Bapak salah mungkin,” sergahku. “Bapak liat dulu, pajak motor saya hidup, kog.” Saya bersikeras.
Pak polisi kemudian membacakan plat motor saya, lalu tanggal berlaku pajak kendaraan. Saya melongo. Ternyata pak polisi tidak salah, saya yang alpa.
“Maaf, pak, saya biasanya taat pajak,” kataku sambil tetap tersenyum, tapi kali ini sudah dipaksakan.
“Tapi ibu tetap saya tilang,” kata pak polisi tegas. Nasib, nasib...
Halaban, 15 Februari 2020
x
Langganan:
Postingan (Atom)
-
TERLALU PD Selesai mengawas UAMBN (waktu itu masih ujian tulis) dan menyelesaikan administrasi dengan panitia, kami para pengawas moho...
-
PLANNING SI BUYUNG Sepulang mengaji dari musholla yang tak jauh dari rumah, Buyung kelihatan sedih. Kerut di keningnya seolah ingin menyam...
-
Disleksia Bibir yang tak pernah basah oleh tasbih pada-Nya Gigi yang tak pernah bergemelatuk mendentingkan rindu-Nya Lidah yang ...